SANGIRAN THE HOMELAND OF JAVA MAN

Sangiran adalah sebuah situs arkeologi
di Jawa, Indonesia. Situs ini terletak di dua wilayah kabupaten yang ada di Provinsi
Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Sragen (Kecamatan Gemolong, Kecamatan Kalijambe,
dan Kecamatan Plupuh) dan Kabupaten Karanganyar (Kecamatan Gondangrejo), Jawa
Tengah. Letak astronomis Sangiran yaitu 110° 49 menit sampai 110° 53 menit
Bujur Timur dan 07° 24 menit sampai 07° 30 menit Lintang Selatan. Arena ini
memiliki luas sekitar 56 km² (7km x 8 km). Nama situs Sangiran mulai dikenal
sejak seorang peneliti Belanda bernama Von Koenigswald melakukan penelitian
pada tahun 1934.
Pada waktu itu Koenigswald menemukan
alat batu yang merupakan hasil budaya
manusia purba dalam penelitiannya di Situs Sangiran. Selanjutnya, pada tahun
1936 ditemukan fosil manusia purba pertama di Sangiran. Setelah itu, tahun demi
tahun penelitian semakin banyak dilakukan di Sangiran yang menghasilkan
berbagai temuan yang berupa fosil manusia, fosil hewan, alat tulang, dan alat
batu.
Menurut laporan UNESCO, pada tahun 1995
Sangiran diakui oleh para ilmuwan sebagai salah satu situs penting di dunia
untuk mempelajari fosil manusia purba. Situs ini disejajarkan dengan situs
Zhoukoudian (Cina), Willandra Lakes (Australia), Olduvai Gorge (Tanzania), dan
Sterkfontein (Afrika Selatan). Bahkan lebih baik dalam penemuan dari pada yang
lain. Saat ini, nama Sangiran telah dikenal tidak hanya di Indonesia, tetapi
juga dunia internasional sebagai situs yang mampu menyumbangkan pengetahuan
penting.
Zona museum
Sangiran dibagi menjadi 3 ruang arena pamer:
A. Arena Pamer 1 “Kekayaan Sangiran/Wealth of Sangiran”
Pada arena display ini, berisi
fosil-fosil yang ditemukan di situs Sangiran. Sebagian besar fosil dipajang
pada arena ini, baik dalam bentuk diorama maupun foto-foto dan grafis
pendukung. Fosil Homo Erectus, alat-alat bantu untuk kehidupan manusia, dan
binatang-binatang purba dapat disaksikan disini.
B. Arena Pamer
2 “Langkah-langkah Kemanusian/Steps of Humanity”
Ruang pamer 2 berisi dokumentasi visual teori
“big bang”, terbentuknya alam semesta, hingga pembabakan zaman, dan mahkluk
hidup yang tinggal di masa-masa tersebut. Proses sebuah mahkluk hidup ketika
menjadi fosil juga dapat dilihat disini. Proses evolusi manusia juga
digambarkan secara lengkap. Teori evolusi menjelaskan bagaimana makhluk hidup
berubah dari generasi ke generasi.
Bahkan,
hasil penelitian terbaru hampir selalu mengakibatkan pandangan tentang
asal-usul manusia berubah-ubah. Pada tahun 1970-an, masih banyak mata rantai
yang belum ditemukan, dan hubungan kekerabatan manusia dengan kera tampak jauh.
Akan tetapi, pada tahun 1990-an fosil-fosil pengisi mata rantai yang hilang lebih
banyak ditemukan, dan ternyata kekerabatan manusia dengan kera tampak semakin
dekat. Di ruang pamer ini juga dipaparkan sejarah penelitian manusia purba di
Indonesia, sekaligus pakar-pakar yang berperan didalamnya, antara lain GHR von
Koenigswald dan Eugene Dubois.
C. Arena
Pamer 3 "Masa Keemasan Homo Erectus"
Ruang pamer 3 berisi replika kehidupan
species Homo erectus. Di sini kita bisa melihat manusia terpendek pada saat itu,
Homo Floresiensis namanya.
Selain ketiga ruang pamer di atas, di
Sangiran juga terdapat ruang Audio Visual. Ruang ini digunakan khusus untuk
pemutaran film yang bertema "Kehidupan Manusia Prasejarah". Film ini
disajikan dengan teks berbahasa inggris sedangkan audio berbahasa Indonesia. Ruang
Audio Visual adalah ruang terakhir dari situs Sangiran. Disini kita akan
mendapatkan informasi tentang Sangiran dengan jelas. Di akhir pemutaran film,
kita juga akan diberi kesempatan untuk bertanya kepada pemandu mengenai Situs
Sangiran.









OK, laporannya sudah bagus. Tulisan akan lebih baik dibuat rata kanan kiri. Selain itu, isi masing-masing ruang pameran tidak hanya diwakili satu foto.
BalasHapusya.. terima kasih pak
BalasHapus